Sunday, 21 November 2021

Bahaya Obesitas : Pengertian, Gejala, Penyebab dan Pencegahan

Apa itu Obesitas?

     Obesitas atau kegemukan mempunyai  pengertian  yang  berbeda-beda bagi setiap orang. Terkadang kita sering dibuat bingung dengan pengertian obesitas dan overweight, padahal kedua  istilah  tersebut  mempunyai pengertian yang berbeda. Obesitas adalah suatu kondisi kelebihan  berat tubuh akibat tertimbunnya lemak, untuk pria dan wanita masing- masing melebihi 20% dan 25% dari berat tubuh  dan  dapat  membahayakan kesehatan. Sementara overweight  (kelebihan  berat  badan,  kegemukan) adalah keadaan dimana Berat Badan seseorang melebihi  Berat  Badan normal. Para dokter-dokter memiliki definisi tersendiri tentang obesitas, di antaranya  yaitu:
  • Suatu   kondisi   dimana lemak tubuh  berada   dalam  jumlah  yang berlebihan
  • Suatu penyakit  kronik yang dapat diobati
  • Suatu penyakit  epidemik (mewabah)
  • Suatu  kondisi  yang  berhubungan  dengan penyakit-penyakit  lain dan dapat menurunkan kualitas hidup
  • Penanganan  obesitas   membutuhkan  biaya   perawatan  yang  sangat tinggi.
 
Gambar 1. Penyakit Obesitas
Sumber : Litbang Kemendagri

     Kegemukan  (obesitas) didefinisikan  sebagai  kelebihan   akumulasi lemak rubuh sedikitnya 25% dari berat rata-rata untuk usia., jenis kelamin, dan tinggi badan. Prognosis umum untuk peningkatan dan mempertahankan penurunan berat badan buruk. Namun, keinginan pola hidup lebih sehat dan penurunan factor risiko  sehubungan  dengan ancaman penyakit  terhadap hidup memotivasi beberapa orang untuk mengikuti diet  dan  program penurunan berat badan. Obesitas juga merupakan suatu keadaan patologis dengan terdapatnya penimbuan lemak yang berlebihan daripada yang diperlukan untuk fungsi tubuh. Masalah  gizi  karena  kelebihan  kalori biasanya disertai kelebihan lemak dan protein hewani, kelebihan serat dan mikro nutrien.
     Obesitas terjadi karena adanya kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk jaringan lemak.  Gangguan  keseimbangan  energi  ini  dapat disebabkan oleh faktor eksogen (obesitas primer) sebagai akibat nutrisional (90%) dan faktor endogen (obesitas sekunder) akibat adanya kelainan hormonal,  sindrom atau defek genetik (meliputi  10%).
 



Apa saja tipe-tipe obesitas?

Tipe pada obesitas dapat dibedakan menjadi  2  klasifikasi yaitu :

1. Tipe Obesitas Berdasarkan Bentuk Tubuh
a. Obesitas tipe buah apel (Apple Shape)
Type seperti ini biasanya terdapat pada pria.  dimana  lemak tertumpuk di sekitar perut. Resiko kesehatan pada tipe  ini  lebih tinggi dibandingkan dengan tipe buah pear (Gynoid),
b. Obesitas tipe buah pear (Gynoid)
Tipe ini cenderung  dimiliki  oleh  wanita,  lemak  yang ada  disimpan di sekitar pinggul dan bokong. Resiko terhadap penyakit pada tipe gynoid umumnya  kecil.
c. Tipe Ovid (Bentuk Kotak Buah)
Ciri dari tipe ini adalah "besar di seluruh bagian badan". Tipe Ovid umumnya  terdapat pada orang-orang yang gemuk secara genetic.

2. Tipe Obesitas Berdasarkan Keadaan Sel Lemak
a. Obesitas Tipe Hyperplastik
Obesitas terjadi karena jumlah sel lemak yang lebih banyak dibandingkan keadaan normal.
b. Obesitas Tipe Hypertropik
Obesitas terjadi karena ukuran sel lemak menjadi lebih besar dibandingkan keadaan normal,tetapi jumlah sel tidak bertambah banyak dari normal.
c. Obesitas Tipe Hyperplastik  Dan Hypertropik
Obesitas terjadi karena jumlah dan ukuran  sel  lemak  melebihi normal. Pembentukan sel lemak baru terjadi segera setelah derajat hypertropi  mencapai  maksimal  dengan  perantaraan  suatu  sinyal yang dikeluarkan oleh sel lemak yang mengalami hypertropik



Bagaimana gejala-gejala akibat adanya obesitas?
     
     Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada  bisa  menekan  paru-paru,  sehingga  timbul  gangguan pernafasan dan sesak  nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga   pada   siang   hari   penderita    sering    merasa    ngantuk. Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk  osteoartritis  (terutama  di  daerah pinggul, lutut dan pergelangan  kaki).  Juga  kadang  sering  ditemukan kelainan kulit.
     Seseorang yang menderita  obesitas  memiliki  permukaan  tubuh  yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga  panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan  kaki.




Apa yang menyebabkan timbulnya obesitas?

     Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh. Penyebab terjadinya ketidakseimbangan antara  asupan dan pembakaran  kalori   ini   masih   belum   jelas. Terjadinya  obesitas melibatkan beberapa faktor :

a. Faktor Makanan
Jika seseorang mengkonsumsi makanan dengan kandungan energi sesuai yang dibutuhkan tubuh, maka tidak ada energi yang disimpan.sebaliknya  jika  mengkonsumsi  makanan  dengan   energi melebihi yang dibutuhkan tubuh, maka kelebihan energi akan disimpan, Sebagai cadangan energi terutama sebagai lemak seperti telah diuraikan diatas.

b. Faktor Keturunan
Penelitian pada manusia maupun hewan menunjukan bahwa obesitas terjadi karena faktor interaksi gen dan lingkungan.

c. Faktor Hormon
Menurunya hormon tyroid dalam tubuh akibat menurunya fungsi kelenjar tyroid akan mempengaruhi metabolisme dimana kemampuan menggunakan energi akan berkurang.

d. Faktor Psikologis
Pada beberapa individu akan makan lebih banyak dari biasa bila merasa diperlukan suatu kebutuhan khusus untuk keamanan emosional (security food).

e. Gaya Hidup (Life Style) yang Kurang Tepat
Kemajuan sosial ekonomi, teknologi dan informasi yang global telah menyebabkan perubahan gaya hidup yang meliputi pola pikir dan sikap, yang terlihat  dari pola kebiasaan makan dan beraktifitas  fisik.

f. Pemakaian Obat-Obatan
Efek samping  beberapa  obat  dapat  menyebabkan meningkatnya berat badan, misalnya  obat kontrasepsi.




Bagaimana cara pengukuran obesitas?

a. Pengukuran Secara Antropometri
- Body Mass Index (BMI) Body Mass Index (BMI)
adalah sebuah ukuran “berat terhadap tinggi” badan yang umum digunakan untuk menggolongkan orang dewasa ke dalam kategori Underweight (kekurangan berat badan), Overweight (kelebihan berat badan) dan Obesitas (kegemukan).
- RLPP (rasio lingkar  pinggang dan pinggul)
Untuk menilai timbunan lemak perut dapat digunakan cara  lain, yaitu dengan mengukur rasio lingkar pinggang dan pinggul (RLPP) atau mengukur lingkar pinggang  (LP).  Rumus  yang  digunakan  cukup sederhana yaitu : Sebagai patokan, pinggang berukuran ≥ 90 cm merupakan tanda bahaya bagi pria, sedangkan  untuk  wanita  risiko tersebut   meningkat   bila   lingkar  pinggang  berukuran  ≥   80  cm.  Jadi “Jangan  hanya  menghitung  tinggi  badan,  berat  badan  dan  IMT  saja, lebih baik jika disertai dengan mengukur  lingkar  pinggang”.
- Indeks BROCCA
Salah  satu  cara  lain  untuk  mengukur  obesitas  adalah  dengan menggunakan indeks Brocca, dengan rumus sebagai berikut: Bila  hasilnya:  90-110%  =  Berat  badan  normal  110-120%  = Kelebihan berat badan (Overweight)  > 120% = Kegemukan (Obesitas)

b. Pengukuran Secara Laboratorik
- BOD POD
- DEXA (dual energy X-ray absorptiometry)

c. Bioelectric  Impedance Analysis  (analisa  tahanan bioelektrik)



Bagaimana mekanisme terjadinya obesitas?
  
    Makanan yang adekuat, yang di sertai dengan ketidak seimbangan antara intake dan out put yang keluar – masuk dalam tubuh akan menyebabkan akumulasi timbunan  lemak  pada  jaringan  adiposa khususnya jaringan subkutan. Apabila hal  ini  terjadi  akan  timbul berbagai masalah, diantaranya Timbunan lemak pada  area  abdomen yang emnyebabkan tekanan pada otot-otot diagfragma  meningkat.




Penyakit apa saja yang ditimbulkan oleh obesitas?

1. Diabetes Mellitus
Ini terjadi karena resistensi insulin. Simpanan adiposa yang tinggi pada orang gemuk mengaktifkan paling tidak salah  satu  enzim,  yaitu lipoprotein lipase yang meningkatkan konsentrasi asam lemak  bebas dalam darah. Konsentrasi tinggi asam lemak  bebas  menstimulasi pelepasan sitokin seperti TNF-a (tumor necrosis factor-alpha) yang memicu resistensi  insulin  sehingga  kadar  glukosa  darah  meningkat. Orang gemuk  dengan BMI  di atas  25, tiap peningkatan BMI 1 angka mempunyai kecenderungan menjadi  kencing  manis  sebesar  25%. Dengan bertambahnya ukuran lingkaran perut dan  panggul,  terutama pada obesitas tipe sentral atau android, dapat menimbulkan resistensi insulin.  Sebanyak 90% penderita diabetes tipe

2. Hipertensi
Lebih dari 75% kasus hipertensi berhubungan langsung dengan obesitas. Hipertensi terjadi karena peningkatan plasma darah pada orang yang obesitas meningkat sebanyak 10-20% dan penyumbatan oleh lemak sehingga jantung memompa darah dengan cepat sehingga terjadi hipertensi. Tekanan darah tinggi atau di atas 140/90 mm Hg, terdapat pada lebih dari sepertiga orang obesitas.

3. Penyakit Jantung Koroner
Obesitas dapat menyebabkan penyakit jantung koroner melalui berbagai cara, yaitu dengan cara perubahan lipid darah, yaitu peninggian kadar kolesterol  darah,  kadar  LDL-kolesterol  meningkat  (kolesterol  jahat, yaitu zat yang mempercepat penimbunan kolesterol pada  dinding pembuluh darah),  penurunan  kadar  HDL-kolesterol  (kolesterol  baik, yaitu zat yang mencegah terjadinya penimbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah) dan hipertensi.

4. Stroke
Seiring dengan meningkatnya tekanan darah, gula dan  lemak  darah, maka orang obesitas sangat mudah terserang stroke. Ini dikarenakan adanya sumbatan pada pembuluh darah yang disebabkan  oleh  lemak yang mengendap di pembuluh darah sehingga menyebabkan  hipertensi yang kalau lama dibiarkan akan mengakibatkan kerusakan pembuluh darah dan menjadi pendarahan.

5. Sleep Apnea
Diantara para pasien yang menderita sleep apnea, sekitar 60%  sampai 70% adalah orang yang menderita obesitas. Akibat kegemukan menyebabkan kesukaran bernafas terutama pada waktu tidur malam (sleep apnea), keadaan yang berat dapat menimbulkan penurunan kesadaran sampai koma. Selama peristiwa sleep  apnea,  saluran pernafasan atas terhalang, menghambat atau  menghentikan  pernafasan dan menyebabkan kadar oksigen dalam darah berkurang  dan meningkatkan tekanan darah. Orang tersebut harus  segera  dibangunkan dan kembali bernafas, sehingga kadar oksigen dalam darah dan aliran darah ke otak kembali normal. Gejala dari sleep apnea meliputi perasaan lelah dan mengantuk walaupun sudah tidur selama 8 jam,  mendengkur yang keras sehingga  mengganggu orang lain dan nafas berhenti.

6. Osteoartritis
Osteoartritis biasanya terjadi pada obesitas, umumnya pada sendi-sendi besar penyanggah berat badan, misalnya lutut dan kaki, yang akan membuat sendi bekerja lebih berat. Karena  sendi  tersebut  bekerja dengan keras maka terjadi penurunan fungsi sendi.

7. Batu Empedu
Terjadi karena hati menghasilkan kolesterol, yang merupakan lemak, terlalu banyak daripada asam-asam, yang berfungsi sebagai pelarut, dan lecithin, yang berfungsi sebagai pengemulsi antara lemak  dan  asam- asam empedu tesebut, sehingga beberapa kolesterol tersebut tidak larut dan membentuk partikel kolesterol yang akhirnya menjadi batu empedu. Pada obesitas dengan BMI diatas 30 didapatkan kecenderungan timbul batu empedu dua kali lipat dibandingkan orang normal; pada obesitas dengan BMI lebih dari 45, ditemukan angka 7 kali lipat.

8. Kanker Payudara
Wanita yang telah menopause  lebih  berisiko  mengalami  kanker payudara. Ini terjadi karena pada wanita menopause yang  obesitas terjadi peningkatan estrogen yang  dihasilkan  dari  jaringan  lemak. Karena jaringan  lemak  terlalu banyak  maka  menghasilkan  estrogen dalam jumlah yang besar sehingga berpengaruh terhadap  kanker payudara.




Bagaimana cara pencegahan obesitas?

     Obesitas seharusnya dapat dicegah sedini mungkin. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara:
Usia rekomendasi :
1. 0 – 1 tahun
ASI sangat membantu dalam  menjaga  peningkatan  berat  badan.  Bayi dengan ASI dapat mengontrol kapan ingin mengkonsumsi dan mengikuti keinginannya  sendiri ketika lapar.

2. 2- 6 tahun
Sedini mungkin kenalkan dengan kebiasaan yang sehat.  Ajak  anak  untuk lebih aktif dan berikan beragam makanan  sehat.  Mungkin  butuh  usaha lebih agar anak dapat menerima beragam  makanan,  namun  jangan menyerah.

3. 7 – 12 tahun
Rangsang anak agar lebih aktif setiap hari, dapat dengan kegiatan berkelompok  seperti  olahraga  atau  permainan-permainan  sehat  lainnya. Ajak anak juga tetap aktif dirumah, melalui kegiatan  seperti  berjalan, bermain di halaman dan juga ajak mereka untuk terlibat ketika membuat makanan sehat.

4. 13-17 tahun
Remaja cenderung menyukai makanan siap saji.  Cobalah  untuk mengarahkan mereka untuk beralih menyukai makanan yang lebih sehat seperti buah, sayur, serealia. Batasi makanan siap saji dengan kalori tinggi. Ajak untuk lebih aktif setiap hari, jika anak  Anda  tidak  ikut  serta dalam klub olahraga, sarankan mengikuti  kegiatan  yang  lebih  individual  seperti lari pagi, bersepeda, berenang, dan lain-lain.

5. Segala usia
Kurangi waktu untuk menonton TV, komputer dan video game  serta kurangi camilan pada saat melakukan kegiatan tersebut. Berikan makanan sehat sesering mungkin. Coba untuk selalu memberikan buah dan sayuran, dan ajak anak untuk selalu sarapan setiap hari. Tetap rangsang anak untuk melakukan berbagai macam aktivitas. Namun jangan paksa anak pada satu jenis olahraga atau aktivitas, tapi bantulah mereka untuk menemukan yang mereka suka dan dukung mereka.



Bagaimana penatalaksanaanya?

Penatalaksanaan obesitas dapat  dilakukan dengan berbagai cara antara lain yaitu :
1. Diet
Dianjurkan diet dengan rendah kalori tetapi cukup gizi, ialah 1520 kalori/kg.bb.,dengan komposisi 20% protein, 65% karbohidrat dan 15% lemak, komposisi tersebut mirip dengan komposisi diet B1  dari Askandar. Diet yang tak lazim misalnya diet hanya dengan protein saja (tiger diet), diet tidak makan nasi sama sekali, pada saat sekarang ini tidak sesuai lagi.

2. Olah Raga
Di samping mempercepat metabolisme, juga dapat membuat kondisi tubuh lebih segar dan dapat menambah estetika. Olah raga dimaksudkan agar jumlah  kalori  yang  dikeluarkan  tubuh  lebih  banyak  daripada jumlah kalori yang masuk. Dengan olah raga yang baik akan terjadi peningkatan metabolisme.

3. Obat-obatan
Obat-obatan yang banyak digunakan untuk obesitas terdiri dari obat penahan nafsu makan di antaranya alah golongan amfetamin, obat yang meningkatkan/mempercepat   metabolisme   tubuh   misalnya    preparat tiroid,  obat  pemacu  keluarnya  cairan  tubuh  misalnya   diuretika; pencahar. Namun obat-obat tersebut bila digunakan  dalam  jangka panjang akan menyebabkan efek samping sangat merugikan tubuh. Oleh karena itu penggunaannya  sebaiknya disertai kontrol ketat.

4. Pembedahan
Operasi  jejuno-ileal  by-pass  dilakukan memotong sebagian usus halus yang menyerap makanan,  tetapi  resikonya  cukup  besar  sehingga hal tersebut harus dilakukan dengan indikasi yang cukup kuat, yaitu apabila obesitas tak dapat diobati dengan tindakan konservatif. Operasi pengambilan jaringan lemak (adipektomi), lebih  cenderung  bersifat estetika.