Apa itu Taeniasis Solium ?
Taeniasis solium (taeniasis) dan sistiserkosis dikategorikan sebagai neglected tropical diseases (NTDs) atau neglected zoonotic diseases (NZDs) yang disebabkan oleh cacing pita Taenia solium (T. solium) dan masih menjadi masalah kesehatan di dunia khususnya di negara berkembang. Manusia mendapat infeksi taeniasis disebabkan karena memakan daging babi mentah atau tidak matang yang mengandung sistiserkus hidup. Infeksi ini sering dijumpai di daerah yang masyarakatnya mempunyai kebiasaan mengkonsumsi daging babi mentah/setengah matang dan jarang ditemukan di negara Islam.
Hospes defenitif Taenia solium adalah manusia sedangkan hospes perantaranya adalah babi dan manusia. Taeniasis yang disebabkan oleh infeksi T. solium dewasa dapat menimbulkan gangguan pencernaan, diare, konstipasi, tetapi dapat juga asimptomatis (tanpa gejala). Sistiserkosis pada manusia umumnya disebabkan infeksi oleh larva T. solium yang dapat mengenai otot dan sistem saraf pusat (SSP) disebut dengan neurosistiserkosis yang dapat menimbulkan kejang epilepsi, sakit kepala, gejala neurologik, sampai kematian.Taenia solium atau yang lebih dikenal dengan nama cacing pita kebanyakan merupakan parasit yang mana pada tingkat dewasanya hidup dalam saluran pencernaan manusia. Hewan ini melekat pada dinding saluran pencernaan inangnya dengan cara melekatkan alat pelekat dan penghisap yang ada pada scolexnya, bagian belakang scolex disebut leher dengan ukuran yag pendek yang diikuti oleh proglotid dimana ukurannya secara berangsur-angsur bertambah dari anterior dan berakhir pada posterior. Panjangnya 3-5 meter dan mengandung 800-900 segmen serta sering ditemukan pada otot daging.
Anatomi dari cacing pita ini disesuaikan dengan kebiasaannya sebagai parasit, dimana dia tidak punya saluran pencernaan sehingga makanannya akan langsung diserap oleh dinding tubuhnya. Saluran pengeluarannya membujur, bercabang dan berakhir didalam sel api. Ujung posteriornya terbuka sehingga zat-zat sisa langsung di eksresikan keluar tubuh. Telur pada taenia akan berkembang menjadi embrio dengan 6 alat pelekat ketika ada diluar segmen. Jika mereka dimakan oleh babi mereka akan masuk kedalam saluran pencernaannya kemudian akan berkembang biak didalam tubuh babi tersebut, dimana larvanya akan dikeluarkan bersama dengan feces.
Baca juga : Makalah Hiegine Sanitasi dan Penjamah Makanan
Bagaimana klasifikasinya?
Klasifikasi Taenia Solium
- Filum : Platyhelminthes
- Kelas : Cestoda
- Ordo : Cyclophyllidae
- Famili : Taniidae
- Genus : Taenia
- Spesies : Taenia solium
Berikut ini gambar cacing Taenia Solium :
| Gambar 1. Taenia Solium |
Bagaimana hospes dan nama penyakitnya?
- Hospes dan nama penyakit
- Hospes definitif : Manusia
- Hospes Intermediet : Babi dan Manusia
- Predileksi : Usus halus
- Nama penyakitnya : (Cacing dewasa : teniasis solium) (Larva : sistiserkosis)
Taeniasis adalah penyakit cacing pita yang disebabkan oleh cacing Taenia dewasa, sedangkan sistiserkosis adalah penyakit pada jaringan lunak yang disebabkan oleh larva dari salah satu spesies cacing Taenia.
Baca juga : Bahaya Obesitas : Pengertian, Gejala, Penyebab dan Pencegahan
Bagaimana mofrologi dan siklus hidupnya?
a. Morfologi
- Cacing taenia solium dewasa
- Warna putih.
- Panjang 3-5 meter
- Mempunyai skolex
- Tubuh berproglotid (bersegmen)
- Mempunyai 4 batil isap
- Tubuh berbentuk pipih seperti pita
- Skoleks bulat runcing
- Proglotod gravid ukuran panjang segmen 1,5 ukuran lebar segmen
- Uterus bercabang-cabang 7 - 12 pasang
- Telur :
- Bentuk agak bulat
- Dinding bergaris radial
- Telur dibungkus embriofor berisi embrio heksakan (onkosfor)
b. Siklus hidup
- Telur atau proglotid gravid keluar bersama feses (bertahan beberapa hari – bulan di lingkungan )
- Babi makan rumput yang terkontaminasi proglotid
- Dalam usus dihasilkan onkosfer yang menginvasi dinding usus dan bermigrasi ke jaringan otot dan berkembang menjadi sistisirkus
- Manusia akan terinfeksi sistisirkus jika makan daging yang tidak di masak dengan sempurna
- Dalam usus berkembang lebih 2 bulan menjadi cacing dewasa
- Cacing menyerang usus dengan skolex dan menetap di usus
Baca juga : Apa itu Neurotransmitter?, (Pengertian, Jenis dan Fungsinya)
Bagaimana gejala klinisnya?
Telur Taenia solium (cacing pita babi) bisa menetas di usus halus, lalu memasuki tubuh atau struktur organ tubuh., sehingga muncul penyakit Cysticercosis, cacing pita cysticercus sering berdiam di jaringan bawah kulit dan otot, gejalanya mungkin tidak begitu nyata tetapi kalau infeksi cacing pita Cysticercus menjalar ke otak, mata atau ke sumsum tulang akan menimbulkan efek lanjutan yang parah. Infeksi oleh cacing pita genus Taenia di dalam usus biasanya disebut Taeniasis. Ada dua spesies yang sering sebagai penyebab-nya, yaitu Taenia solium. Cara infeksinya melalui oral karena memakan daging babi yang mentah atau setengah matang dan mengandung larva cysticercus. Di dalam usus halus, larva itu menjadi dewasa dan dapat menyebabkan gejala gastero- intestinal seperti rasa mual, nyeri di daerah epigastrium, nafsu makan menurun atau se-hingga terjadi anemia malnutrisi. Pada pemeriksaan darah tepi didapatkan eosinofilia. Semua gejala tersebut tidak spesifik bahkan sebagian besar kasus taeniasis tidak menunjukkan gejala (asimtomatik) meningkat, diare atau kadang-kadang konstipasi. Selain itu, gizi penderita bisa menjadi buruk, encegahan dan upaya pengendalian merupakan hal yang penting untuk diperhatikan guna menurunkan prevalensi penyakit Taeniasis maupun sistiserkosis. Tindakan pengendalian meliputi :
- Menghilangkan sumber infeksi dengan mengobati penderita Taeniasis di daerah terjangkit.
- Melakukan pemusatan pemotongan ternak di rumah pemotongan hewan (RPH) yang diawasi oleh dokter Hewan berwenang.
- Memberi pemahaman kepada Masyarakat (penyuluhan) tentang resiko yang akan diperoleh apabila memakan daging mentah / setengah matang serta pentingnya manfaat memasak daging hingga matang.
Baca juga : Apa itu Hepatitis A?, (Pengertian, Gejala dan Cara Pencegahannya)
Bagaimana cara pencegahan dan pengobatannya?
a. Pencegahan Penyakit
- Pencegahan penyakit taeniasis dan sistiserkosis dapat dilakukan dengan cara:
- Mengobati penderita (praziquantel, (mebendazole, albendazole, niclosamide, dan atabrin) untuk menghilangkan sumber infeksi dan mencegah terjadinya autoinfeksi dengan larva cacing.
- Memelihara kebersihan lingkungan dengan buang air besar tidak sembarangan (menggunakan jamban keluarga) sehingga feses manusia tidak dimakan oleh sapi/babi dan tidak mencemari tanah atau rumput.
- Pengaturan pemeliharaan sapi babi seperti: memelihara sapi pada tempat yang tidak tercemar atau membuat kandang sapi agar tidak dapat berkeliaran.
- Pemeriksaan daging oleh dokter hewan di RPH (Rumah Pemotongan Hewan), sehingga babi mengandung kista tidak sampai dikonsumsi masyarakat (kerjasama lintas sektor dengan dinas peternakan).
- Daging yang mengandung kista tidak boleh dimakan.
- Menghilangkan kebiasaan makan makanan yang mengandung daging setengah matang atau mentah.
- Memasak daging babi di atas suhu 50 C selama 30 menit untuk mematikan larva sistiserkus atau menyimpan daging babi/sapi pada suhu 10 C selama 5 hari.
- Memberikan vaksin pada hewan ternakbabi (penggunaan crude antigen yang berasal dari onkosfer, sistisersi, atau cacing dewasa Taenia solium).
- Memberikan cestosida (praziquantel, dan oxfendazole) pada hewan ternak babi.
- Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar, sebelum makan, atau mengganti popok bayi mengolah makanan serta rajin mandi.
- Mencuci sayuran dan buah-buhan sebelum dimakan.
- Mengajari anak untuk mencuci tangan dengan sabun.
b. Pengobatan
- Dianjurkan penggunaan praziquantel atau niklosamid
- Pada sisteserkosis dianjurkan untuk pembedahan pengambilan kista
- Obat-obat antiparasit (Praziquantel 50-75 mg/kg/hari, Albendazole 15 mg/kg/hari)
- Pengobatan simptomatik (Anti kejang, Kortikosteroid)
No comments:
Post a Comment