Saturday, 27 November 2021

Makalah Hiegine Sanitasi dan Penjamah Makanan

BAB I
PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN HIGIENE SANITASI
     Pengertian hygiene menurut Depkes RI (2004), hygiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan subyeknya seperti mencuci tangan dengan air bersih dan sabun untuk melindungi kebersihan tangan, mencuci piring untuk melindungi kebersihan piring, membuang bagian makanan yang rusak untuk melindungi keutuhan makanan secara keseluruhan. Penanganan makanan secara hygiene bertujuan untuk mengendalikan keberadaan pathogen dalam makanan. Menurut Widyawati (2002), hygiene adalah suatu pencegahan penyakit  yang menitik beratkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada.
Higiene
Gambar 1. Mencuci tangan
Sumber : radarhijau.com

    Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan yang menitik beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat mengganggu atau merusak kesehatan, mulai dari sebelum makanan diproduksi, selama dalam proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, sampai pada saat dimana makanan dan minuman tersebut siap untuk di konsumsikan kepada masyarakat atau konsumen. Menurut Depkes RI 2004, Sanitasi adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan lingkungan dari obyeknya. Misalnya, menyediakan air yang bersih untuk keperluan mencuci tangan, menyediakan tempat sampah untuk  mewadahi sampah agar sampah tidak dibuang sembarang.




B. TUJUAN HIGIENE DAN SANITASI
     Menurut Prabu (2008) sanitasi makanan bertujuan untuk menjamin keamanan dan kemurnian makanan, mencegah penjualan makanan yang akan merugikan pembeli, mengurangi pembeli, mengurangi kerusakan makanan. Higiene dan sanitasi makanan bertujuan untuk mengendalikan faktor makanan, tempat dan perlengkapannya yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan lainnya.




C. PENGERTIAN PENJAMAH MAKANAN
     Penjamah makanan adalah seorang tenaga kerja yang menjamah mulai dari persiapan, mengolah, menyimpan, mengangkut maupun dalam penyajian makanan. Pengetahuan sikap dan tindakan seorang penjamah mempengaruhi kualitas makanan yang disajikan penjamah mempengaruhi kualitas makanan yang disajikan penjmah yang sedang sakit flu, demam dan diare sebaiknya tidak dilibatkan dahulu dalam proses pengolahan makanan. Jika terjadi luka penjamah harus menutup luka dengan pelindung kedap air misalnya, plester atau sarung tangan plastic (Kusmayadi, 2008). Syarat-syarat penjamah makanan (Depkes RI,2003) :
  1. Tidak menderita penyakit mudah menular, missal : batuk, pilek, influenza, diare, penyakit perut sejenisnya.
  2. Menutup luka (pada luka terbuka/bisul atau luka lainnya).
  3. Menjaga kebersihan tangan, rambut, kuku dan pakaian.
  4. Memakai celemek dan tutup kepala.
  5. Mencuci tangan setiap hendak menangani makanan.
  6. Menjamah makanan harus memakai alat/perlengkapan atau dengan atas tangan.
  7. Tidak merokok, menggaruk anggota badan (telinga,hidung, mulut dan bagian lainnya).
  8. Tidak batuk atau bersin dihadapan makanan jajanan yang disajikan dan atau tanpa menutup hidung atau mulut.



BAB II
PEMBAHASAN

     Upaya pengamanan atau hygiene dan sanitasi makanan pada dasarnya meliputi orang yang menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan, peralatan pengolahan makanan, proses pengolahan makanan, penyimpanan makanan dan penyajian makanan. Di Gorontalo masalah hygiene dan sanitasi makanan masih kurang di perhatikan, khususnya hygiene dan sanitasi makanan di pasar Jajan Kota Gorontalo. Pasar Jajan merupakan pasar tradisional yang menjajakan makanan di kota Gorontalo. Pasar Jajan ini, di bangun oleh pemerintah kota Gorontalo pada tahun 2005 dan di resmikan pada tahun 2006. Pasar Jajan kota Gorontalo berada dalam pengawasan Dinas pasar kota Gorontalo yang bertempat di pasar Sentral Kota Gorontalo lantai dua. Setiap harinya penjual makanan yang ada di pasar Jajan di kenakan pajak rutin, baik penjual yang aktif maupun penjual yang sudah tidak aktif. Pada tahun pertama konsumen atau pengunjung yang datang di pasar Jajan sangat banyak, setelah itu jumlah konsumen atau pengunjung yang datang menurun dari tahun ke tahun. Pasar jajan ini akan rame di kunjungi apabila ada pasar Senggol (pasar yang di selenggarakan oleh pemerintah kota Gorontalo menjelang hari raya Idul Fitri). Makanan yang di jajakan atau di jual di pasar Jajan yaitu, nasi goreng, bakso, ayam goreng, nasi putih, opor ayam, nasi kuning, ikan goreng, ikan bakar, dan masih banyak lagi. Pengolahan makanan yang di jajakan di pasar Jajan di olah atau di masak di pasar jajan. Penjamah makanan yang ada di pasar.
     Memperhatikan hygiene dan sanitasi saat mengolah makanan, yang sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1096/Menkes/PER/VI/2011. Hal ini di sebabkan karena kurangnya penyuluhan tentang persyaratan hygiene perilaku penjamah saat mengolah makanan oleh tim kesehatan yang ada di kota Gorontalo. Hygiene personal pada saat mengolah makanan sangat di perlukan agar menghasilkan makanan yang terhindar dari kuman dan terhindar dari efek fatal yaitu keracunan makanan. Pada saat mengolah makanan, penjamah menyediakan makanan dalam jumlah yang lumayan banyak. Dengan sedikitnya pengunjung atau konsumen yang datang menyebabkan makanan yang disediakan tidak laku terjual. Agar tidak mengalami kerugian, penjual menyimpan makanan yang tidak laku ini dalam lemari es dan kemudian esok harinya di panaskan lagi. Penyimpanan yang di lakukan dengan cara menggabungkan semua jenis makanan dalam 1 wadah tanpa memisahkannya. Hal ini menyebabkan bau makanan tidak enak lagi. Makanan yang telah di masak ini di simpan pula bersamaan dengan bahan makanan yang belum di olah atau bahan makanan yang mentah dalam 1 lemari es. Berdasarkan pada uraian diatas, hasil pengamatan pendahuluan dan pengamatan atau observasi awal peneliti menemukan masih kurangnya perhatian tentang hygiene dan sanitasi makanan serta hygiene personal saat mengolah makanan. Misalnya tidak mencuci tangan sebelum menangani makanan, tidak menutup kepala/tidak memakai topi, tidak memakai sarung tangan yang sekali pakai, tidak memperhatikan suhu penyimpanan makanan.
     Penyajian Makanan Berdasarkan pengamatan dilapangan cara penyajian makanan yang digunakan oleh penjamah makanan di pasar Jajan Kota Gorontalo sudah cukup baik. Ini terlihat dari upaya yang dilakukan penjamah makanan dalam menjaga makanan yang dipajang agar tidak dihinggap oleh lalat sudah sangat baik dimana makanan yang disajikan, ditempatkan ditempat khusus yang dilindungi oleh tirai dan diberi pencahayaan yang cukup. Gamman dan Sherrington (1992) menyatakan bahwa menyentuh pangan secara langsung pada saat menyajikan pangan harus sedapat mungkin dihindari untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang.
     Pakaian yang bersih dan rapi serta bersikap sopan dalam melayani tamu yang datang. 4. Kesimpulan dan Saran Permenkes No. 1096/Menkes/PER/VI/2011 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aspek hygiene dan sanitasi makanan di pasar Jajan ditinjau dari aspek pengolahan makanan masih rendah yaitu hanya mencapai skor 42.86% sedangkan aspek hygiene dan sanitasi makanan di pasar Jajan ditinjau dari aspek penyimpanan makanan masih sangat rendah yaitu hanya mencapai skor 25.00% dan aspek hygiene dan sanitasi makanan di pasar Jajan ditinjau dari aspek penyajian makanan sudah baik yaitu mencapai skor 92,9%. Aspek hygiene dan sanitasi makanan di pasar Jajan dilihat dari aspek pengolahan dan penyimpanan makanan masing-masing masih sangat rendah sedangkan ditinjau dari aspek penyajian makanan sudah baik. Bagi penjamah makanan di pasar Jajan Kota Gorontalo diharapkan lebih meningkatkan pengetahuan mengenai hygiene dan sanitasi, penjamah makanan lebih aktif memperhatikan sarana maupun media untuk peningkatan pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui media massa, informasi dari masyarakat sekitar dapat juga melalui pelatihan-pelatihan maupun melalui penyuluhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Bagi Dinas Kesehatan Kota Gorontalo diharapkan dapat meningkatan frekuensi sosialisasi yang lebih rutin terutama penyuluhan atau penyampaian informasi dan pelatihan guna meningkatkan pengetahuan penjamah makanan agar memperhatikan hygiene dan sanitasi perorangan sebagai langkah pencegahan kontaminasi pada makanan mengingat rendahnya pengetahuan penjamah makanan mengenai hygiene dan sanitasi perorangan dan makanan.




BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
  1. Hygiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan subyeknya seperti mencuci tangan dengan air bersih dan sabun untuk melindungi kebersihan tangan, mencuci piring untuk melindungi kebersihan piring, membuang bagian makanan yang rusak untuk melindungi keutuhan makanan secara keseluruhan. Penanganan makanan secara hygiene bertujuan untuk mengendalikan keberadaan pathogen dalam makanan. 
  2. Agar makanan tetap aman dan sehat diperlukan beberapa cara yang meliputi penyimpanan,pencegahan kontaminasi dan pembasmian organism dan toksin.
  3. Kontaminasi pada makanan mengingat rendahnya pengetahuan penjamah makanan mengenai hygiene dan sanitasi perorangan dan makanan.



Tuesday, 23 November 2021

GMO : Pengertian, Keuntungan dan Kekurangannya

Apa itu GMO (Genetically Modified Organism) ?

     Genetically modified organism (GMO) merupakan organisme yang gen-gennya telah diubah dengan menggunakan teknik rekayasagenetika. Perkembangan produk GMO semakin lama semakin meningkat karenakebutuhan dan permintaannya yang tinggi.Kehadiran tanaman transgenik memegang peran penting dalam ketahanan pangan nasional. Hal ini disebabkan adanya pertambahan jumlah penduduk dunia yang tidak berbanding lurus dengan ketersediaan lahan pertanian (Kementrian Pertahanan Republik Indonesia, 2015).
Gambar 1. GMO
Sumber : Shutterstock.com


     Produk rekayasa genetika diklasifikasikan menjadi 4 macam, yaitu generasi pertama: satu sifat; generasi kedua: kumpulan sifat; generasi ketiga dan keempat: near-intragenic, intragenic, dan cisgenic. Adapun produk rekayasa genetika pada tanaman di Indonesia diantaranya adalah pepaya, tebu, tomat, singkong, jagung, dan kentang (Rahayu,2015)




Apa saja keuntungan dan kekurangan GMO ?

a. Keuntungan  Pemanfaatan Genetically Modified Organism (GMO)
     Keuntungan pangan hasil rekayasa genetika antara lain meningkatkan efisiensi dan produktivitas, nilai ekonomi produk, memperbaiki nutrisi, nilai palatabilitas dan meningkatkan masa simpan produk15. Dampak positif tersebut didapatkan dari hasil bioteknologi di bidang pertanian dan pangan. Di bidang farmasi dan kedokteran, hasil bioteknologi yang terdiri dari kedokteran regeneratif, terapi gen, kloning terapeutik dan penggunaan bahan organik yang tepat dapat mengobati dan menyembuhkan penyakit. Selain itu, bioteknologi di bidang industri juga membawa manfaat tersendiri (Zakki, 2009).
b. Kekurangan Pemanfaatan GMO (Genetically Modified Organism)
    Menurut Brander, 2002. Dalam pemanfaatannya tanaman transgenik dapat menimbulkan alergi dan keracunan, merusak lingkungan, resistensi antibiotik, penyebaran gen-gen tertentu kepada tanaman nonsasaran melalui persilangan dan pemencaran. Sedangkan resiko yang perlu diperhatikan dari pengembangan GMO’s antara lain: kemungkinan terjadinya gangguan pada keseimbangan ekologi, terbentuknya resistensi terhadap antibiotik, dikuatirkan dapat terbentuknya senyawa toksik, allergen atau terjadinya perubahan nilai gizi. Proses pembuatan GMO’s (bioteknologi) dapat dimungkinkan terjadinya perubahan senyawa pada organisme yang bersangkutan, sehingga dapat menjadi toksin ( Zakki, 2009).




Bagaimana perkembangan GMO di Indonesia dan dampaknya?

    Dalam pengembangannya sampai saat ini GMO masih menimbulkan pro kontra(kontroversi) di tengah-tengah masyarakatdunia, baik yang terjadi di negara dimana GMO dikembangkan maupun di negara- negara pengguna produk GMO.Kontroversi yang sangat tajam justru terjadi di kalangan para ilmuwan, masing- masing kelompok bertahan pada alasa nyang dapat diterima secara ilmiah (Dano,2007).
    Kelompok yang pro GMO beralasan bahwa ada potensi tak terbatas dalam rekayasa genetika yang bermanfaat untuk mengurangi penggunaan pestisida, mengatasi kekurangan pangan, dan menghasilkan makan-makanan yang lebih bergizi serta obat-obatan. Kelompok yang kontra/menolak berpendapat produk pangan dan obat-obatan GMO belum diyakini aman untuk dikonsumsi karena masih menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan.Dampk negatif lainnya bagi para petani khususnya adalah sangat merugikan mereka, karena petani non GMO tidak mampu meningkatkan produktifitas yang lebih menguntungkan (Hardinsyah, 2000). Semua dampak negatif tersebut sampai saat ini kurang mendapat perhatian pemerintah dan ilmuwan seperti yang dilaporkan oleh Dano (2007).
    Menurut jurnal kesehatan, akibat makanan transgenik ini tidak begitu kelihatan jika dikonsumsi oleh manusia, oleh karena itu ahli biologi menguji cobakan terhadap tikus, dan hasilnya mencengangkan : tikus menjadi mandul, lemah, gerak lakunya lamban, terdapat sel kanker di otak dan saluran cernanya. Contohnya adalah kedelai yang dikonsumsi di Indonesia sebagian besar adalah impor dari AS. Padahal kedelai AS hasil rekayasa genetik (GMO) dari Monsanto. GMO (Genetically Modified Organism) atau Makhluk Hidup hasil Rekayasa Genetik sangatlah berbahaya karena dapat menyebabkan penyakit baru. Selain itu rekayasa genetik juga melanggar hukum Sunatullah (hukum dasar penciptaan) karena merusak susunan keseimbangan alam semesta.
    Contoh lainnya adalah tanaman jagung dengan “diubah dan disesuaikan”, sehingga menjadi lebih unggul, semisal tahan hama, tahan penyakit, dan lebih banyak menghasilkan panen, atau menambah ”gemuk” Induksi transgenic tomat ini merupakan kegiatan pengcloningan tanaman tomat dimana menggunakan tomat jasmonat reistent dengan satu eksperesi gen yang bertujuan untuk menunda atau menghambat kolonisasi bakteri ralstonia solanacearum Dengan demikian, mekanisme molekuler yang mendasari resistensi tomat terhadap Ralstonia solanacearum tetap tidak diketahui.Hasil dari transgenic ini menghasilkan tomat yang dapat  Memperpanjang masa simpan tomat selama proses distribusi tanpa mengubah rasa alami tomat, sehingga memungkinkan tomat dapat dikemas dan dikirim dalam jangka waktu lebih lama. Kemudian Meminimalisir biaya pengemasan saat dipasarkan ke daerah yang lebih jauh.



DAFTAR PUSTAKA
Brandner, D.L. 2002. Detection of Genetically Modified Food: Has Your Food Been Genetically Modified. The American Biology Teacher. 64 (6): 433-442.

Dano, E. C. 2007. Potential Socio-Economic, Cultural and EthicalImpacts of GMOs: Prospects forSocio-Economic Impact Assessment. TWN (ISBN: 978-983-2729-23-5), 3thWorld Network, Penang Malaysia. Pp32.Dresbach, S.H., H. Flax, A. Sokolowski.

Hardinsyah. 2000. Potensi Kekuatan danKelemahan Produk Pangan HasilRekayasa Genetika. Makalah padaSeminar Pangan Rekayasa Genetika.Kolaborasi, Bogor.

Kementrian Pertahanan Republik Indonesia. (2015). Buku putih pertahanan Indonesia. Jakarta, Indonesia: Kementrian Pertahanan Republik Indonesia.

Rahayu,  T.  (2015).  Indonesia  agricultural biotechnology annual. Indonesia.

Zakki Adlhiyati, S.H. 2009. Produk Rekayasa Genetika (Gmo/Genetically Modified Organism) Sebagai Subjek Perlindungan Paten Dan Perlindungan Varietas Tanaman. [Tesis]. Semarang. Program Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro.


Sunday, 21 November 2021

Bahaya Obesitas : Pengertian, Gejala, Penyebab dan Pencegahan

Apa itu Obesitas?

     Obesitas atau kegemukan mempunyai  pengertian  yang  berbeda-beda bagi setiap orang. Terkadang kita sering dibuat bingung dengan pengertian obesitas dan overweight, padahal kedua  istilah  tersebut  mempunyai pengertian yang berbeda. Obesitas adalah suatu kondisi kelebihan  berat tubuh akibat tertimbunnya lemak, untuk pria dan wanita masing- masing melebihi 20% dan 25% dari berat tubuh  dan  dapat  membahayakan kesehatan. Sementara overweight  (kelebihan  berat  badan,  kegemukan) adalah keadaan dimana Berat Badan seseorang melebihi  Berat  Badan normal. Para dokter-dokter memiliki definisi tersendiri tentang obesitas, di antaranya  yaitu:
  • Suatu   kondisi   dimana lemak tubuh  berada   dalam  jumlah  yang berlebihan
  • Suatu penyakit  kronik yang dapat diobati
  • Suatu penyakit  epidemik (mewabah)
  • Suatu  kondisi  yang  berhubungan  dengan penyakit-penyakit  lain dan dapat menurunkan kualitas hidup
  • Penanganan  obesitas   membutuhkan  biaya   perawatan  yang  sangat tinggi.
 
Gambar 1. Penyakit Obesitas
Sumber : Litbang Kemendagri

     Kegemukan  (obesitas) didefinisikan  sebagai  kelebihan   akumulasi lemak rubuh sedikitnya 25% dari berat rata-rata untuk usia., jenis kelamin, dan tinggi badan. Prognosis umum untuk peningkatan dan mempertahankan penurunan berat badan buruk. Namun, keinginan pola hidup lebih sehat dan penurunan factor risiko  sehubungan  dengan ancaman penyakit  terhadap hidup memotivasi beberapa orang untuk mengikuti diet  dan  program penurunan berat badan. Obesitas juga merupakan suatu keadaan patologis dengan terdapatnya penimbuan lemak yang berlebihan daripada yang diperlukan untuk fungsi tubuh. Masalah  gizi  karena  kelebihan  kalori biasanya disertai kelebihan lemak dan protein hewani, kelebihan serat dan mikro nutrien.
     Obesitas terjadi karena adanya kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk jaringan lemak.  Gangguan  keseimbangan  energi  ini  dapat disebabkan oleh faktor eksogen (obesitas primer) sebagai akibat nutrisional (90%) dan faktor endogen (obesitas sekunder) akibat adanya kelainan hormonal,  sindrom atau defek genetik (meliputi  10%).
 



Apa saja tipe-tipe obesitas?

Tipe pada obesitas dapat dibedakan menjadi  2  klasifikasi yaitu :

1. Tipe Obesitas Berdasarkan Bentuk Tubuh
a. Obesitas tipe buah apel (Apple Shape)
Type seperti ini biasanya terdapat pada pria.  dimana  lemak tertumpuk di sekitar perut. Resiko kesehatan pada tipe  ini  lebih tinggi dibandingkan dengan tipe buah pear (Gynoid),
b. Obesitas tipe buah pear (Gynoid)
Tipe ini cenderung  dimiliki  oleh  wanita,  lemak  yang ada  disimpan di sekitar pinggul dan bokong. Resiko terhadap penyakit pada tipe gynoid umumnya  kecil.
c. Tipe Ovid (Bentuk Kotak Buah)
Ciri dari tipe ini adalah "besar di seluruh bagian badan". Tipe Ovid umumnya  terdapat pada orang-orang yang gemuk secara genetic.

2. Tipe Obesitas Berdasarkan Keadaan Sel Lemak
a. Obesitas Tipe Hyperplastik
Obesitas terjadi karena jumlah sel lemak yang lebih banyak dibandingkan keadaan normal.
b. Obesitas Tipe Hypertropik
Obesitas terjadi karena ukuran sel lemak menjadi lebih besar dibandingkan keadaan normal,tetapi jumlah sel tidak bertambah banyak dari normal.
c. Obesitas Tipe Hyperplastik  Dan Hypertropik
Obesitas terjadi karena jumlah dan ukuran  sel  lemak  melebihi normal. Pembentukan sel lemak baru terjadi segera setelah derajat hypertropi  mencapai  maksimal  dengan  perantaraan  suatu  sinyal yang dikeluarkan oleh sel lemak yang mengalami hypertropik



Bagaimana gejala-gejala akibat adanya obesitas?
     
     Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada  bisa  menekan  paru-paru,  sehingga  timbul  gangguan pernafasan dan sesak  nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga   pada   siang   hari   penderita    sering    merasa    ngantuk. Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk  osteoartritis  (terutama  di  daerah pinggul, lutut dan pergelangan  kaki).  Juga  kadang  sering  ditemukan kelainan kulit.
     Seseorang yang menderita  obesitas  memiliki  permukaan  tubuh  yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga  panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan  kaki.




Apa yang menyebabkan timbulnya obesitas?

     Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh. Penyebab terjadinya ketidakseimbangan antara  asupan dan pembakaran  kalori   ini   masih   belum   jelas. Terjadinya  obesitas melibatkan beberapa faktor :

a. Faktor Makanan
Jika seseorang mengkonsumsi makanan dengan kandungan energi sesuai yang dibutuhkan tubuh, maka tidak ada energi yang disimpan.sebaliknya  jika  mengkonsumsi  makanan  dengan   energi melebihi yang dibutuhkan tubuh, maka kelebihan energi akan disimpan, Sebagai cadangan energi terutama sebagai lemak seperti telah diuraikan diatas.

b. Faktor Keturunan
Penelitian pada manusia maupun hewan menunjukan bahwa obesitas terjadi karena faktor interaksi gen dan lingkungan.

c. Faktor Hormon
Menurunya hormon tyroid dalam tubuh akibat menurunya fungsi kelenjar tyroid akan mempengaruhi metabolisme dimana kemampuan menggunakan energi akan berkurang.

d. Faktor Psikologis
Pada beberapa individu akan makan lebih banyak dari biasa bila merasa diperlukan suatu kebutuhan khusus untuk keamanan emosional (security food).

e. Gaya Hidup (Life Style) yang Kurang Tepat
Kemajuan sosial ekonomi, teknologi dan informasi yang global telah menyebabkan perubahan gaya hidup yang meliputi pola pikir dan sikap, yang terlihat  dari pola kebiasaan makan dan beraktifitas  fisik.

f. Pemakaian Obat-Obatan
Efek samping  beberapa  obat  dapat  menyebabkan meningkatnya berat badan, misalnya  obat kontrasepsi.




Bagaimana cara pengukuran obesitas?

a. Pengukuran Secara Antropometri
- Body Mass Index (BMI) Body Mass Index (BMI)
adalah sebuah ukuran “berat terhadap tinggi” badan yang umum digunakan untuk menggolongkan orang dewasa ke dalam kategori Underweight (kekurangan berat badan), Overweight (kelebihan berat badan) dan Obesitas (kegemukan).
- RLPP (rasio lingkar  pinggang dan pinggul)
Untuk menilai timbunan lemak perut dapat digunakan cara  lain, yaitu dengan mengukur rasio lingkar pinggang dan pinggul (RLPP) atau mengukur lingkar pinggang  (LP).  Rumus  yang  digunakan  cukup sederhana yaitu : Sebagai patokan, pinggang berukuran ≥ 90 cm merupakan tanda bahaya bagi pria, sedangkan  untuk  wanita  risiko tersebut   meningkat   bila   lingkar  pinggang  berukuran  ≥   80  cm.  Jadi “Jangan  hanya  menghitung  tinggi  badan,  berat  badan  dan  IMT  saja, lebih baik jika disertai dengan mengukur  lingkar  pinggang”.
- Indeks BROCCA
Salah  satu  cara  lain  untuk  mengukur  obesitas  adalah  dengan menggunakan indeks Brocca, dengan rumus sebagai berikut: Bila  hasilnya:  90-110%  =  Berat  badan  normal  110-120%  = Kelebihan berat badan (Overweight)  > 120% = Kegemukan (Obesitas)

b. Pengukuran Secara Laboratorik
- BOD POD
- DEXA (dual energy X-ray absorptiometry)

c. Bioelectric  Impedance Analysis  (analisa  tahanan bioelektrik)



Bagaimana mekanisme terjadinya obesitas?
  
    Makanan yang adekuat, yang di sertai dengan ketidak seimbangan antara intake dan out put yang keluar – masuk dalam tubuh akan menyebabkan akumulasi timbunan  lemak  pada  jaringan  adiposa khususnya jaringan subkutan. Apabila hal  ini  terjadi  akan  timbul berbagai masalah, diantaranya Timbunan lemak pada  area  abdomen yang emnyebabkan tekanan pada otot-otot diagfragma  meningkat.




Penyakit apa saja yang ditimbulkan oleh obesitas?

1. Diabetes Mellitus
Ini terjadi karena resistensi insulin. Simpanan adiposa yang tinggi pada orang gemuk mengaktifkan paling tidak salah  satu  enzim,  yaitu lipoprotein lipase yang meningkatkan konsentrasi asam lemak  bebas dalam darah. Konsentrasi tinggi asam lemak  bebas  menstimulasi pelepasan sitokin seperti TNF-a (tumor necrosis factor-alpha) yang memicu resistensi  insulin  sehingga  kadar  glukosa  darah  meningkat. Orang gemuk  dengan BMI  di atas  25, tiap peningkatan BMI 1 angka mempunyai kecenderungan menjadi  kencing  manis  sebesar  25%. Dengan bertambahnya ukuran lingkaran perut dan  panggul,  terutama pada obesitas tipe sentral atau android, dapat menimbulkan resistensi insulin.  Sebanyak 90% penderita diabetes tipe

2. Hipertensi
Lebih dari 75% kasus hipertensi berhubungan langsung dengan obesitas. Hipertensi terjadi karena peningkatan plasma darah pada orang yang obesitas meningkat sebanyak 10-20% dan penyumbatan oleh lemak sehingga jantung memompa darah dengan cepat sehingga terjadi hipertensi. Tekanan darah tinggi atau di atas 140/90 mm Hg, terdapat pada lebih dari sepertiga orang obesitas.

3. Penyakit Jantung Koroner
Obesitas dapat menyebabkan penyakit jantung koroner melalui berbagai cara, yaitu dengan cara perubahan lipid darah, yaitu peninggian kadar kolesterol  darah,  kadar  LDL-kolesterol  meningkat  (kolesterol  jahat, yaitu zat yang mempercepat penimbunan kolesterol pada  dinding pembuluh darah),  penurunan  kadar  HDL-kolesterol  (kolesterol  baik, yaitu zat yang mencegah terjadinya penimbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah) dan hipertensi.

4. Stroke
Seiring dengan meningkatnya tekanan darah, gula dan  lemak  darah, maka orang obesitas sangat mudah terserang stroke. Ini dikarenakan adanya sumbatan pada pembuluh darah yang disebabkan  oleh  lemak yang mengendap di pembuluh darah sehingga menyebabkan  hipertensi yang kalau lama dibiarkan akan mengakibatkan kerusakan pembuluh darah dan menjadi pendarahan.

5. Sleep Apnea
Diantara para pasien yang menderita sleep apnea, sekitar 60%  sampai 70% adalah orang yang menderita obesitas. Akibat kegemukan menyebabkan kesukaran bernafas terutama pada waktu tidur malam (sleep apnea), keadaan yang berat dapat menimbulkan penurunan kesadaran sampai koma. Selama peristiwa sleep  apnea,  saluran pernafasan atas terhalang, menghambat atau  menghentikan  pernafasan dan menyebabkan kadar oksigen dalam darah berkurang  dan meningkatkan tekanan darah. Orang tersebut harus  segera  dibangunkan dan kembali bernafas, sehingga kadar oksigen dalam darah dan aliran darah ke otak kembali normal. Gejala dari sleep apnea meliputi perasaan lelah dan mengantuk walaupun sudah tidur selama 8 jam,  mendengkur yang keras sehingga  mengganggu orang lain dan nafas berhenti.

6. Osteoartritis
Osteoartritis biasanya terjadi pada obesitas, umumnya pada sendi-sendi besar penyanggah berat badan, misalnya lutut dan kaki, yang akan membuat sendi bekerja lebih berat. Karena  sendi  tersebut  bekerja dengan keras maka terjadi penurunan fungsi sendi.

7. Batu Empedu
Terjadi karena hati menghasilkan kolesterol, yang merupakan lemak, terlalu banyak daripada asam-asam, yang berfungsi sebagai pelarut, dan lecithin, yang berfungsi sebagai pengemulsi antara lemak  dan  asam- asam empedu tesebut, sehingga beberapa kolesterol tersebut tidak larut dan membentuk partikel kolesterol yang akhirnya menjadi batu empedu. Pada obesitas dengan BMI diatas 30 didapatkan kecenderungan timbul batu empedu dua kali lipat dibandingkan orang normal; pada obesitas dengan BMI lebih dari 45, ditemukan angka 7 kali lipat.

8. Kanker Payudara
Wanita yang telah menopause  lebih  berisiko  mengalami  kanker payudara. Ini terjadi karena pada wanita menopause yang  obesitas terjadi peningkatan estrogen yang  dihasilkan  dari  jaringan  lemak. Karena jaringan  lemak  terlalu banyak  maka  menghasilkan  estrogen dalam jumlah yang besar sehingga berpengaruh terhadap  kanker payudara.




Bagaimana cara pencegahan obesitas?

     Obesitas seharusnya dapat dicegah sedini mungkin. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara:
Usia rekomendasi :
1. 0 – 1 tahun
ASI sangat membantu dalam  menjaga  peningkatan  berat  badan.  Bayi dengan ASI dapat mengontrol kapan ingin mengkonsumsi dan mengikuti keinginannya  sendiri ketika lapar.

2. 2- 6 tahun
Sedini mungkin kenalkan dengan kebiasaan yang sehat.  Ajak  anak  untuk lebih aktif dan berikan beragam makanan  sehat.  Mungkin  butuh  usaha lebih agar anak dapat menerima beragam  makanan,  namun  jangan menyerah.

3. 7 – 12 tahun
Rangsang anak agar lebih aktif setiap hari, dapat dengan kegiatan berkelompok  seperti  olahraga  atau  permainan-permainan  sehat  lainnya. Ajak anak juga tetap aktif dirumah, melalui kegiatan  seperti  berjalan, bermain di halaman dan juga ajak mereka untuk terlibat ketika membuat makanan sehat.

4. 13-17 tahun
Remaja cenderung menyukai makanan siap saji.  Cobalah  untuk mengarahkan mereka untuk beralih menyukai makanan yang lebih sehat seperti buah, sayur, serealia. Batasi makanan siap saji dengan kalori tinggi. Ajak untuk lebih aktif setiap hari, jika anak  Anda  tidak  ikut  serta dalam klub olahraga, sarankan mengikuti  kegiatan  yang  lebih  individual  seperti lari pagi, bersepeda, berenang, dan lain-lain.

5. Segala usia
Kurangi waktu untuk menonton TV, komputer dan video game  serta kurangi camilan pada saat melakukan kegiatan tersebut. Berikan makanan sehat sesering mungkin. Coba untuk selalu memberikan buah dan sayuran, dan ajak anak untuk selalu sarapan setiap hari. Tetap rangsang anak untuk melakukan berbagai macam aktivitas. Namun jangan paksa anak pada satu jenis olahraga atau aktivitas, tapi bantulah mereka untuk menemukan yang mereka suka dan dukung mereka.



Bagaimana penatalaksanaanya?

Penatalaksanaan obesitas dapat  dilakukan dengan berbagai cara antara lain yaitu :
1. Diet
Dianjurkan diet dengan rendah kalori tetapi cukup gizi, ialah 1520 kalori/kg.bb.,dengan komposisi 20% protein, 65% karbohidrat dan 15% lemak, komposisi tersebut mirip dengan komposisi diet B1  dari Askandar. Diet yang tak lazim misalnya diet hanya dengan protein saja (tiger diet), diet tidak makan nasi sama sekali, pada saat sekarang ini tidak sesuai lagi.

2. Olah Raga
Di samping mempercepat metabolisme, juga dapat membuat kondisi tubuh lebih segar dan dapat menambah estetika. Olah raga dimaksudkan agar jumlah  kalori  yang  dikeluarkan  tubuh  lebih  banyak  daripada jumlah kalori yang masuk. Dengan olah raga yang baik akan terjadi peningkatan metabolisme.

3. Obat-obatan
Obat-obatan yang banyak digunakan untuk obesitas terdiri dari obat penahan nafsu makan di antaranya alah golongan amfetamin, obat yang meningkatkan/mempercepat   metabolisme   tubuh   misalnya    preparat tiroid,  obat  pemacu  keluarnya  cairan  tubuh  misalnya   diuretika; pencahar. Namun obat-obat tersebut bila digunakan  dalam  jangka panjang akan menyebabkan efek samping sangat merugikan tubuh. Oleh karena itu penggunaannya  sebaiknya disertai kontrol ketat.

4. Pembedahan
Operasi  jejuno-ileal  by-pass  dilakukan memotong sebagian usus halus yang menyerap makanan,  tetapi  resikonya  cukup  besar  sehingga hal tersebut harus dilakukan dengan indikasi yang cukup kuat, yaitu apabila obesitas tak dapat diobati dengan tindakan konservatif. Operasi pengambilan jaringan lemak (adipektomi), lebih  cenderung  bersifat estetika.
 

Thursday, 18 November 2021

Pengertian Neurotransmiter

Apa itu Neurotransmiter?

     Neurotransmiter adalah senyawa organik endogenus membawa sinyal di antara neuron. Neurotransmiter terbungkus oleh vesikel sinapsis, sebelum dilepaskan bertepatan dengan datangnya potensial aksi. Neurotransmiter adalah senyawa organik endogenus membawa sinyal di antara neuron. Neurotransmiter terbungkus oleh vesikel sinapsis, sebelum dilepaskan bertepatan dengan datangnya potensial aksi. Neurotransmiter adalah bahan kimia endogen yang mengirimkan sinyal dari neuron ke sel target di sinaps. Pelepasan neurotransmiter biasanya mengikuti kedatangan sebuah potensial aksi pada sinapsis, tetapi juga dapat mengikuti potensi listrik dinilai. Rendahnya tingkat ”dasar” rilis jugaterjadi tanpa stimulasi listrik. Neurotransmiter disintesis dari precursor berlimpah dan sederhana, seperti asam amino, yang tersedia dari diet dan yanghanya membutuhkan sejumlah kecil langkah biosintesis untuk mengkonversi.


     Gambar diatas memperlihatkan ilustrasi dari elemen utama pada tranmisi sinapsis sebuah gelombang elektrokimiawi yang disebut potensi aksi bergerak sepanjang akson sebuah neuron. Ketika gelombang tersebut mencapai sinapsis, sejumlah molekul neurotransmitter dilepaskan dan bergerak menuju penyerap yang terletak pada membrane neuron lain yang berada di dekat sinapsis. Seluruh aktivitas kehidupan manusia yang berkenaan dengan otak di atur melalui tiga cara, yaitu sinyal listrik pada neuron, zat kimiawi yang di sebut neurotransmitter dan hormon yang dilepaskan ke dalam darah. Hampir seluruh aktivitas di otak memanfaatkan neurotransmitter. Beberapa neurotransmiter utama, antara lain:
  1. Asam amino : asam glutamat, asam aspartat, serina, GABA, glisina
  2. Monoamina: dopamin, adrenalin, noradrenalin, histamin, serotonin, melatonin
  3. Bentuk lain: asetilkolina, adenosina, anandamida, dll.



Macam-macam Neurotransmiter?

     Tiga jenis utama neurotransmiter di otak adalah biogenik amina, asam amino, dan peptida.  Amina biogenik adalah neurotransmitter yang paling dikenal, karena mereka adalah yang pertama temukan. Tetapi, mereka merupakan zat neurotransmiter yang hanya sebagian kecil dari neuron. Zat kimia ini dilepaskan dari akson terminal melalui eksositosis dan juga direabsorpsi untuk daur ulang. Neurotransmiter merupakan cara komunikasi antar neuron. Zat-zat kimia ini menyebabkan perubahan permeabilitas sel neuron, sehingga neuron menjadi lebih kurang dapt menyalurkan impuls, tergantung dari neuron dan transmiter tersebut. Amina biogenik adalah neurotransmitter yang paling dikenal, karena mereka adalah yang pertama temukan. Tetapi, mereka merupakan zat neurotransmiter yang hanya sebagian kecil dari neuron. 
     Neurotransmitter asam amino terlambat untuk ditemukan, terutama karena kesulitan dalam membedakan asam amino yang ada sebagian besar protein dari asam amino sama bertindak terpisah sebagai neurotransmitter. Neurotransmitter asam amino ditemukan lebih dari 70% dari neuron. Neurotransmiter peptida adalah Intermediate sedang dalam hal persentase neuron yang berisi neurotransmitter tipe itu, tapi mereka jauh melampaui dua kategori lainnya dalam jumlah tipis (sekitar 200 hingga 300 dari neurotransmiter dari jenis telah putatively diidentifikasi). Kriteria neurotransmiter penuh telah terpenuhi hanya beberapa peptida tersebut saat ini. Namun demikian, bukti yang menunjukkan bahwa neurotransmiter peptida putatif, pada kenyataannya, neurotransmiter umumnya kuat. Neurotransmitter terdiri atas berbagai macam anatara lain :
  1. Asetilkolin (CH3COOCH2CH2N+(CH3)3)
  2. Noepinefrin, epinephrine, dan dopamine
  3. Dopamin (NO2C8H11)
  4. Norepineprin (C8H9NO3)
  5. Epinefrin (C9H23NO3)
  6. Glutamate (C5H9NO4)
  7. Serotonin (C10H12N2O)
  8. GABA
  9. Glisin (NH2CH2COOH)
  10. Aspartat
  11. Nitrat Oksida (NO)
  12. Neuropeptida



Apa sih fungsi Neurotransmiter?
     
     Fungsi neurotransmitter adalah untuk memungkinkan terjadinya transmisi sinyal antara satu sel syaraf (neuron) dengan sel syaraf lain, atau dengan sel tubuh lain seperti oto, dalam proses yang disebut dengan neurotransmisi. Neurotransmitter, yang juga dikenal sebagai pembawa pesan kimia, adalah senyawa endogen yang memungkinkan transmisi dalam jaringan syarah. Senyawa ini mengirimkan sinyal melintasi bagian syaraf, seperti pada hubungan neuromuskular (antara otot dan syaraf), pada hubungan dari satu neuron (sel saraf) ke neuron berikutnya, atau pada sel kelenjar.
    Neurotransmisi (transmisi pada jaringan syaraf) memerlukan adanya pelepasan neurotransmiter pada sinapsis (titik temu antara terminal akson salah satu neuron dengan neuron lain). Neurotransmitter memungkinkan transmisi sinyal dari satu neuron ke sinapsis berikutnya. Neurotransmitter juga ditemukan pada ujung akson neuron motorik, di mana mereka merangsang serabut otot. 

Tuesday, 16 November 2021

Pengertian Hepatitis A

Apa itu Hepatitis A?
     
     Hepatitis A adalah penyakit yang menyerang organ Hepar yang disebabkan oleh VHA. Hepatitis A dapat menyebabkan sakit ringan hingga berat. Pada umumnya penyebaran terjadi secara fekal-oral ketika seseorang mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja seseorang yang terinfeksi VHA. VHA bersifat termostabil, tahan asam, dan tahan terhadap cairan empedu. Hepatitis A juga merupakan jenis hepatitis yang paling ringan dan paling mudah penularannya serta tidak menutup kemungkinan akan berubah atau masuk ke tingkat yang lebih parah seperti hepatitis B atau hepatitis C. Jika tidak dilakukan intervensi segera, anak-anak yang sehat agar tetap sehat dan anak-anak yang rentan dapat terhindar dari faktor-faktor penyebab terjangkitnya hepatitis A.

Penyakit
Gambar 1. Hepatitis A (ilustrasi)

     Hepatitis A adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis A. Penyebaran virus ini terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh feses orang yang terinfeksi. Penyakit ini dapat menyebabkan gejala seperti mual, muntah, lemas, hilang napsu makan, kulit dan sklera mata berubah menjadi kuning, demam, dan gejala lainnya. Proses penyembuhan penyakit ini membutuhkan waktu sekitar beberapa minggu hingga beberapa bulan. Hal ini dapat menimbulkan dampak sosioekonomi dalam masyarakat.
      Secara global didapatkan sekitar 1,4 juta kasus baru infeksi virus hepatitis A pertahun. Hepatitis A merupakan yang umum terjadi di seluruh dunia dimana infeksi virus hepatitis A lebih sering mengenai anak-anak. Didaerah dengan 4 musim, infeksi virus hepatitis A terjadi secara epidemik musiman yang puncaknya terjadi pada akhir musim semi dan awal musim dingin. Didaerah tropis, puncak insidensi pernah dilaporkan cenderung terjadi selama musim hujan dan pola epidemik siklik berulang setiap 5-10 tahun sekali yang mirip dengan penyakit virus lainnya.
     Hepatitis A dapat dicegah dengan vaksin. Menyebar dari makanan atau air yang terkontaminasi, atau kontak dengan seseorang yang terinfeksi. Gejala berupa kelelahan, mual, nyeri perut, gangguan nafsu makan, dan demam ringan. Kondisi ini akan hilang sendiri dalam waktu satu atau dua bulan. Istirahat dan hidrasi yang cukup dapat membantu. 
Infeksi Virus Hepatitis A menyebabkan peradangan akut pada liver dan merupakan penyakit yang perkembangannya terbatas dengan gejala yang bertahan selama beberapa minggu sebelum orang yang bersangkutan pulih sepenuhnya. Infeksi ini menyebabkan kekebalan tubuh seumur hidup.
     Hepatitis A, yang dahulu dinamakan hepatitis infeksiosa, disebabkan oleh virus RNA dari family enterovirus. Masa inkubasi virus Hepatitis A diperkirakan berkisar dari 1 hingga 7 minggu dengan rata-rata 30 hari. Perjalanan penyakit dapat berlangsung lama, dari 4 minggu hingga 8 minggu. Virus Hepatitis A hanya terdapat dalam waktu singkat di dalam serum, pada saat timbul ikterik kemungkinan pasien sudah tidak infeksius lagi (Smeltzer, 2001)




Bagaiamana gejala orang yang terkena penyakit Hepatitis A?

     Penyebab hepatitis A utamanya berasal dari infeksi virus hepatitis A (HAV). Virus tersebut dapat menginfeksi sel-sel hati dan memicu peradangan. Ketika hati sudah meradang, kinerja organ yang berfungsi mengambil sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu ini bisa terganggu. Virus hepatitis bisa bertahan perairan laut, air tawar, air pembuangan, dan tanah sampai satu bulan. Gejala Hepatitis antara lain yaitu :
  1. Lelah Kerap mual dan muntah
  2. Perut terasa tidak nyaman
  3. Sakit perut sebelah kanan atas di bawah tulang rusuk
  4. Tidak selera makan Demam ringan Urine berwarna gelap
  5. Nyeri sendi Kulit dan bagian putih mata menguning Gatal-gatal.
    Cara penularan virus hepatitis A yang paling umum adalah lewat makanan dan minuman yang terkontaminasi kotoran penderita. Berbeda dengan Covid-19 atau infeksi virus corona dan flu, virus ini tidak menyebar melalui bersin, batuk, atau percikan cairan dari saluran pernapasan. Virus Hepatitis A ditularkan melalui:
  1. Kontak darah, penggunaan obat dan kontak seksual (khususnya antara pria homoseksual) dengan orang yang terinfeksi.
  2. Mengkonsumsi kerang dari air yang terkontaminasi dengan air pembuangan kotoran.
  3. Kontak langsung dengan makanan, minuman atau benda yang terkontaminasi kotoran (tinja) orang yang terinfeksi.



Bagaimana cara pencegahan Hepatitis A?
     
     Pencegahan Hepatitis A dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, umumnya dapat dilakukan dengan : 
  1. Selalu menjaga kebersihan tangan. Caranya adalah mencucinya dengan sabun dan air bersih.
  2. Jangan pernah berbagi barang-barang yang sifatnya pribadi.
  3. Minimalisasi jajan di pinggir jalan yang tidak terjamin kebersihannya.
  4. Selalu memasak makanan hingga matang.
  5. Selalu hindari konsumsi makanan mentah dari air yang tercemar

Sunday, 14 November 2021

Pengertian Taeniasis Solium

 Apa itu Taeniasis Solium ?

     Taeniasis solium (taeniasis) dan sistiserkosis dikategorikan sebagai neglected tropical diseases (NTDs) atau neglected zoonotic diseases (NZDs) yang disebabkan oleh cacing pita Taenia solium (T. solium) dan masih menjadi masalah kesehatan di dunia khususnya di negara berkembang. Manusia mendapat infeksi taeniasis disebabkan karena memakan daging babi mentah atau tidak matang yang mengandung sistiserkus hidup. Infeksi ini sering dijumpai di daerah yang masyarakatnya mempunyai kebiasaan mengkonsumsi daging babi mentah/setengah matang dan jarang ditemukan di negara Islam. 

     Hospes defenitif Taenia solium adalah manusia sedangkan hospes perantaranya adalah babi dan manusia. Taeniasis yang disebabkan oleh infeksi T. solium dewasa dapat menimbulkan gangguan pencernaan, diare, konstipasi, tetapi dapat juga asimptomatis (tanpa gejala). Sistiserkosis pada manusia umumnya disebabkan infeksi oleh larva T. solium yang dapat mengenai otot dan sistem saraf pusat (SSP) disebut dengan neurosistiserkosis yang dapat menimbulkan kejang epilepsi, sakit kepala, gejala neurologik, sampai kematian.Taenia solium atau yang lebih dikenal dengan nama cacing pita kebanyakan merupakan parasit yang mana pada tingkat dewasanya hidup dalam saluran pencernaan manusia. Hewan ini melekat pada dinding saluran pencernaan inangnya dengan cara melekatkan alat pelekat dan penghisap yang ada pada scolexnya, bagian belakang scolex disebut leher dengan ukuran yag pendek yang diikuti oleh proglotid dimana ukurannya secara berangsur-angsur bertambah dari anterior dan berakhir pada posterior. Panjangnya 3-5 meter dan mengandung 800-900 segmen serta sering ditemukan pada otot daging. 

     Anatomi dari cacing pita ini disesuaikan dengan kebiasaannya sebagai parasit, dimana dia tidak punya saluran pencernaan sehingga makanannya akan langsung diserap  oleh  dinding tubuhnya. Saluran pengeluarannya membujur, bercabang dan berakhir didalam sel   api. Ujung posteriornya terbuka sehingga zat-zat sisa langsung di eksresikan keluar tubuh. Telur pada taenia akan berkembang menjadi embrio dengan 6 alat pelekat ketika ada diluar segmen. Jika mereka dimakan oleh babi mereka akan masuk kedalam saluran pencernaannya kemudian akan berkembang biak didalam tubuh babi  tersebut,  dimana larvanya akan dikeluarkan bersama dengan feces.


Baca juga : Makalah Hiegine Sanitasi dan Penjamah Makanan


Bagaimana klasifikasinya?

Klasifikasi Taenia Solium

  1. Filum : Platyhelminthes 
  2. Kelas : Cestoda
  3. Ordo : Cyclophyllidae 
  4. Famili : Taniidae
  5. Genus : Taenia 
  6. Spesies : Taenia solium

Berikut ini gambar cacing Taenia Solium :

Gambar 1. Taenia Solium


Bagaimana hospes dan nama penyakitnya?

  1. Hospes dan nama penyakit
  2. Hospes definitif : Manusia
  3. Hospes Intermediet : Babi dan Manusia
  4. Predileksi : Usus halus
  5. Nama penyakitnya : (Cacing dewasa : teniasis solium) (Larva : sistiserkosis)

Taeniasis adalah penyakit cacing pita yang disebabkan oleh cacing Taenia dewasa, sedangkan sistiserkosis adalah penyakit pada jaringan lunak yang disebabkan oleh larva dari salah satu spesies cacing Taenia.


Baca juga : Bahaya Obesitas : Pengertian, Gejala, Penyebab dan Pencegahan


Bagaimana mofrologi dan siklus hidupnya?

a. Morfologi

- Cacing taenia solium dewasa

  1. Warna putih.
  2. Panjang 3-5 meter
  3. Mempunyai skolex
  4. Tubuh berproglotid (bersegmen)
  5. Mempunyai 4 batil isap
  6. Tubuh berbentuk pipih seperti pita
  7. Skoleks bulat runcing
  8. Proglotod gravid ukuran panjang segmen 1,5 ukuran lebar segmen
  9. Uterus bercabang-cabang 7 - 12 pasang

- Telur :

  1. Bentuk agak bulat
  2. Dinding bergaris radial
  3. Telur dibungkus embriofor berisi embrio heksakan (onkosfor)

b. Siklus hidup

  1. Telur atau proglotid gravid keluar bersama feses (bertahan beberapa hari – bulan di lingkungan )
  2. Babi makan rumput yang terkontaminasi proglotid
  3. Dalam usus dihasilkan onkosfer yang menginvasi dinding usus dan bermigrasi ke jaringan otot dan berkembang menjadi sistisirkus
  4. Manusia akan terinfeksi sistisirkus  jika makan daging yang tidak di masak dengan sempurna
  5. Dalam usus berkembang lebih 2 bulan menjadi cacing dewasa
  6. Cacing menyerang usus dengan skolex dan menetap di usus


Baca juga : Apa itu Neurotransmitter?, (Pengertian, Jenis dan Fungsinya)


Bagaimana gejala klinisnya?

     Telur Taenia solium (cacing pita babi) bisa menetas di usus halus, lalu memasuki tubuh atau struktur organ tubuh., sehingga muncul penyakit Cysticercosis, cacing pita cysticercus sering berdiam di jaringan bawah kulit dan otot, gejalanya mungkin tidak begitu nyata tetapi kalau infeksi cacing pita Cysticercus menjalar ke otak, mata atau ke sumsum tulang akan  menimbulkan efek lanjutan yang parah. Infeksi oleh cacing pita genus Taenia di dalam usus biasanya disebut Taeniasis. Ada dua spesies yang sering sebagai penyebab-nya, yaitu Taenia solium. Cara infeksinya melalui oral karena memakan daging babi yang mentah atau setengah matang dan mengandung larva cysticercus. Di dalam usus halus, larva itu menjadi dewasa dan dapat menyebabkan gejala gastero- intestinal seperti rasa mual, nyeri di daerah epigastrium, nafsu makan menurun atau se-hingga terjadi anemia malnutrisi. Pada pemeriksaan darah tepi didapatkan eosinofilia. Semua gejala tersebut tidak spesifik bahkan sebagian besar kasus taeniasis tidak menunjukkan gejala (asimtomatik) meningkat, diare atau kadang-kadang konstipasi. Selain itu, gizi penderita bisa menjadi buruk, encegahan dan upaya pengendalian merupakan hal yang penting untuk diperhatikan guna menurunkan prevalensi penyakit Taeniasis maupun sistiserkosis. Tindakan pengendalian meliputi :

  1. Menghilangkan sumber infeksi dengan mengobati penderita Taeniasis di daerah terjangkit.
  2. Melakukan pemusatan pemotongan ternak di rumah pemotongan hewan (RPH) yang diawasi oleh dokter Hewan berwenang.
  3. Memberi pemahaman kepada Masyarakat (penyuluhan) tentang resiko yang akan diperoleh apabila memakan daging mentah / setengah matang serta pentingnya manfaat memasak daging hingga matang.


Baca juga : Apa itu Hepatitis A?, (Pengertian, Gejala dan Cara Pencegahannya)


Bagaimana cara pencegahan dan pengobatannya?

a. Pencegahan Penyakit

  1. Pencegahan penyakit taeniasis dan sistiserkosis dapat dilakukan dengan cara: 
  2. Mengobati penderita (praziquantel, (mebendazole, albendazole, niclosamide, dan atabrin) untuk menghilangkan sumber infeksi dan mencegah terjadinya autoinfeksi dengan larva cacing.
  3. Memelihara kebersihan lingkungan dengan buang air besar tidak sembarangan (menggunakan jamban keluarga) sehingga feses manusia tidak dimakan oleh sapi/babi dan tidak mencemari tanah atau rumput.
  4. Pengaturan pemeliharaan sapi babi seperti: memelihara sapi pada tempat yang tidak tercemar atau membuat kandang sapi agar tidak dapat berkeliaran. 
  5. Pemeriksaan daging oleh dokter hewan di RPH (Rumah Pemotongan Hewan), sehingga babi mengandung kista tidak sampai dikonsumsi masyarakat (kerjasama lintas sektor dengan dinas peternakan).
  6. Daging yang mengandung kista tidak boleh dimakan. 
  7. Menghilangkan kebiasaan makan makanan yang mengandung daging setengah matang atau mentah.
  8. Memasak daging babi di atas suhu 50 C selama 30 menit untuk mematikan larva sistiserkus atau menyimpan daging babi/sapi pada suhu 10 C selama 5 hari.
  9. Memberikan vaksin pada hewan ternakbabi (penggunaan crude antigen yang berasal dari onkosfer, sistisersi, atau cacing dewasa Taenia solium).
  10. Memberikan cestosida (praziquantel, dan oxfendazole) pada hewan ternak babi. 
  11. Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar, sebelum makan, atau mengganti popok bayi mengolah makanan serta rajin mandi.
  12. Mencuci sayuran dan buah-buhan sebelum dimakan.
  13. Mengajari anak untuk mencuci tangan dengan sabun.

b. Pengobatan

  1. Dianjurkan penggunaan praziquantel atau niklosamid
  2. Pada sisteserkosis dianjurkan untuk pembedahan pengambilan kista
  3. Obat-obat antiparasit (Praziquantel 50-75 mg/kg/hari, Albendazole  15 mg/kg/hari)
  4. Pengobatan simptomatik (Anti kejang, Kortikosteroid)