Sunday, 5 December 2021

Memahami Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Apa itu penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) ?

     Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah kelainan ketika makanan yang telah masuk ke dalam lambung, kembali naik ke arah esofagus (refluks), sehingga mengakibatkan rasa terbakar di dada atau ulu hati. Penyakit Refluks Gastro Esofagus (PRGE) atau yang lebih dikenal dengan nama Gastro Esophageal Reflux Disease (GERD) yaitu kondisi yang terjadi bila aliran balik isi lambung ke esofagus memberikan keluhan dan mengganggu kualitas hidup seseorang.

Gambar 1. Penyakit GERD
Sumber : radioedukasi.kemendikbud.go.id

     GERD dapat didefinisikan sebagai gangguan ketika isi lambung mengalami refluks secara berulang ke dalam esofagus sehingga muncul gejala dan/atau komplikasi yang mengganggu. Menurut Vakil, et al. (2006) menyatakan dalam studinya bahwa menurut definisi Montreal tahun 2006 GERD adalah suatu kondisi yang berkembang ketika komposisi dari refluks lambung mengakibatkan gejala-gejala dan/atau komplikasi. Percobaan-percobaan klinis menggunakan proton pump inhibitor (PPI) menunjukkan bahwa obat kelompok ini dapat meredakan gejala-gejala dispepsia yang tidak disebabkan oleh refluks asam lambung seperti pada pasien GERD. Hal ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan GERD dan gejala dispepsia merupakan manifestasi dari sebuah patofisiologi yang sama. Gejala GERD memang seringkali disertai dengan gejala-gejala yang mirip dengan dispepsia. Gejala-gejala yang dimaksud adalah rasa mual, muntah, rasa kenyang dini, kembung, dan bersendawa, di mana gejala-gejala tersebut menambah rasa tidak nyaman pada penderita. Pengelompokkan ke dalam penyakit GERD awalnya adalah berdasarkan dari gejala dispepsia fungsional yang dikeluhkan pasien pada masa itu. Konsensus Roma III menyatakan bahwa penderita gejala dispepsia fungsional yang mengalami refluks dan terdapat rasa panas di belakang dada yang sangat, dapat dikelompokkan ke dalam penyakit GERD.




     Gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan suatu keadaan melemahnya Lower Esophageal Sphincter (LES) yang mengakibatkan terjadinya refluks cairan asam lambung ke dalam esofagus. Prevalensi GERD menurut Map of Digestive Disorders & Diseases tahun 2008 di Amerika Serikat, United Kingdom, Australia, Cina, Jepang, Malaysia, dan Singapura adalah 15%, 21%, 10,4%, 7,28%, 6,60%, 38,8%, dan 1,6%.4 Belum ada data mengenai GERD di Indonesia, namun keluhan serupa GERD cukup banyak ditemukan dalam praktik sehari-hari. Salah satu masalah bagi setiap tenaga kesehatan di pusat pelayanan kesehatan primer adalah menegakkan diagnosis dan menentukan terapi GERD dengan keterbatasan alat penunjang diagnostik.
     Definisi GERD menurut Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit Refluks Gastroesofageal di Indonesia tahun 2013 adalah suatu gangguan berupa isi lambung mengalami refluks berulang ke dalam esofagus, menyebabkan gejala dan/atau komplikasi yang mengganggu. GERD adalah suatu keadaan patologis akibat refluks kandungan lambung ke dalam esofagus dengan berbagai gejala akibat keterlibatan esofagus, faring, laring dan saluran napas. Sedangkan menurut American College of Gastroenterology Gastroenterology, GERD is a physical condition in which acid from the stomach flows backward up into the esofagus. Jadi, GERD adalah suatu keadaan patologis di mana cairan asam lambung mengalami refluks sehingga masuk ke dalam esofagus dan menyebabkan gejala. GERD terjadi akibat adanya ketidakseimbangan antara faktor ofensif dan defensif dari sistem pertahanan esofagus dan bahan refluksat lambung, yang termasuk faktor defensif sistem pertahanan esofagus adalah Lower Esophageal Sphincter (LES), mekanisme bersihan esofagus, dan epitel esophagus. Pada GERD, fungsi LES terganggu dan menyebabkan terjadinya aliran retrograde dari lambung ke esofagus. Terganggunya fungsi LES pada GERD disebabkan oleh turunnya tekanan LES akibat penggunaan obat-obatan, makanan, faktor hormonal, atau kelainan struktural. 
     Berdasarkan lokalisasi gejalanya, GERD dibagi menjadi dua, yaitu sindrom esofageal dan esktraesofageal. Sindrom esofageal merupakan refluks esofageal yang disertai dengan atau tanpa adanya lesi struktural. Gejala klinis sindrom esofageal tanpa lesi struktural berupa heartburn dan regurgitasi, serta nyeri dada non-kardiak. Sedangkan pada sindrom esofageal disertai lesi struktural, berupa refluks esofagitis, striktur refluks, Barret’s esophagus, adenokarsinoma esofagus. Sindrom ekstraesofageal biasanya terjadi akibat refluks gastroesofageal jangka panjang.




Bagaimana Tanda dan Gejala Gastroesophagel Reflux Disease (GERD) ?

     Tanda dan gejala khas GERD adalah regurgitasi dan hearburn. Regurgitasi merupakan suatu keadaan refluks yang terjadi sesaat setelah makan, ditandai rasa asam dan pahit di lidah. Heartburn adalah suatu rasa terbakar di daerah epigastrium yang dapat disertai nyeri dan pedih. Dalam bahasa awam, heartburn sering dikenal dengan istilah rasa panas di ulu hati yang terasa hingga ke daerah dada. Kedua gejala ini umumnya dirasakan saat setelah makan atau saat berbaring. 
Gejala lain GERD adalah kembung, mual, cepat kenyang, bersendawa, hipersalivasi, disfagia hingga odinofagia. Disfagia umumnya akibat striktur atau keganasan Barrett’s esophagus. Sedangkan odinofagia atau rasa sakit saat menelan umumnya akibat ulserasi berat atau pada kasus infeksi. Nyeri dada non-kardiak, batuk kronik, asma, dan laringitis merupakan gejala ekstraesofageal penderita GERD


Bagaimana Cara Pengobatan Penyakit Gastroesophagel Reflux Disease (GERD)?

1. Uji terapi PPI
Uji terapi PPI merupakan suatu terapi empirik dengan memberikan PPI dosis ganda selama 1-2 minggu tanpa pemeriksaan endoskopi sebelumnya. Indikasi uji terapi PPI adalah penderita dengan gejala klasik GERD tanpa tanda-tanda alarm. Tanda-tanda alarm meliputi usia >55 tahun, disfagia, odinofasia, anemia defisiensi besi, BB turun, dan adanya perdarahan (melena/ hematemesis). Apabila gejala membaik selama penggunaan dan memburuk kembali setelah pengobatan dihentikan, maka diagnosis GERD dapat ditegakkan. Tatalaksana Tujuan pengobatan GERD adalah untuk mengatasi gejala, memperbaiki kerusakan mukosa, mencegah kekambuhan, dan mencegah komplikasi. Berdasarkan Guidelines for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease tahun 1995 dan revisi tahun 2013, terapi GERD dapat dilakukan dengan:
  • Treatment Guideline I: Lifestyle Modification 
  • Treatment Guideline II: Patient Directed Therapy 
  • Treatment Guideline III: Acid Suppression 
  • Treatment Guideline IV: Promotility Therapy 
  • Treatment Guideline V: Maintenance Therapy 
  • Treatment Guideline VI: Surgery Therapy 
  • Treatment Guideline VII: Refractory GERD



2. Terapi Medikamentosa 
     Treapi Medikamentosa merupakan terapi menggunakan obat-obatan. PPI merupakan salah satu obat untuk terapi GERD yang memiliki keefektifan serupa dengan terapi pembedahan. Jika dibandingkan dengan obat lain, PPI terbukti paling efektif mengatasi gejala serta menyembuhkan lesi esofagitis,Yang termasuk obat-obat golongan PPI adalah omeprazole 20 mg, pantoprazole 40 mg, lansoprazole 30 mg, esomeprazole 40 mg, dan rabeprazole 20 mg. PPI dosis tunggal umumnya diberikan pada pagi hari sebelum makan pagi. Sedangkan dosis ganda diberikan pagi hari sebelum makan pagi dan malam hari sebelum makan malam.


Bagaimana Diet Penyakit Disertai Interaksi Obat dan Makanan Pada Penyakit?

1. Diet Penyakit Gastroesophagel Reflux Disease (GERD)
     Secara garis besar, di pusat pelayanan kesehatan primer berdasarkan Guidelines for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease adalah dengan melakukan modifikasi gaya hidup dan terapi medikamentosa GERD. Modifikasi gaya hidup, merupakan pengaturan pola hidup yang  dapat dilakukan dengan:
  • Menurunkan berat badan bila penderita obesitas atau menjaga berat badan sesuai dengan IMT ideal 
  • Meninggikan kepala ± 15-20 cm/ menjaga kepala agar tetap elevasi saat posisi berbaring 
  • Makan malam paling lambat 2 – 3 jam sebelum tidur 
  • Menghindari makanan yang dapat merangsang GERD seperti cokelat, minuman mengandung kafein, alkohol, dan makanan berlemak, asam serta makanan pedas.



2. Interaksi obat dan makanan pada penyakit Gastroesophagel Reflux Disease (GERD)
     Beberapa jenis makanan tertentu beresiko memicu GERD. Misalnya makanan pedas yang berlebihan  akan merangsang lambung untuk berkontraksi dan kandungan  cabai dapai menghilangkan sel epitel pada lapisan mukosa. Sedangakan konsumsi makanan asam dapat merangsang produksi asam lambung. Beberapa jenis obat-obatan seperti sedatif, penenang, anidepresan, calcium channel blockers mengganggu kerja otot kerongkongan bawah. Sedangkan obat-obatan sejenis antibiotika dan anti-inflamasi nonsteroid dapat meningkatkan peradangan  pada esophagus.

No comments:

Post a Comment